Pengambilan Seragam bagi siswa baru TP. 2017 – 2018 Terakhir tanggal 3 Juni. Tanggal 25 - 27 Libur tidak ada petugas yang melayani pengambilan seragam. Dan...
Persiapan Masa Inkorporasi Gonzaga (MIG), siswa tahun ajaran 2017/2018 masuk untuk persiapan...
Hari Raya Santo Aloysius Gonzaga, pelindung SMA Kolese...
‘Live in’ adalah sebuah program yang diperuntukkan bagi kelas XI. Dalam program ini diharapkan para siswa/i semakin terasah kepeduliannya kepada orang lain. Para siswa/i diminta untuk tinggal bersama dengan masyarakat dan mengalami secara langsung bagaimana masyarakat menghayati kehidupannya. Dengan mengalami secara langsung, para siswa/i diharapkan dapat merasakan, menjelaskan, dan mengolah pengalaman kegembiraan maupun kesulitan yang dialami oleh masyarakat di mana mereka tinggal. Pengolahan pengalaman ini akan diwujudkan dalam bentuk tulisan refleksi ‘live in’. Dalam menuliskan refleksi ‘live in’ ini, para siswa/i akan dibantu oleh tim pendamping dalam analisis sosial. Refleksi yang terbaik akan mendapatkan penghargaan yang akan diumumkan pada acara ‘Ignatius Day’.
Tujuan utama dari kegiatan ‘live in’ adalah untuk mengembangkan semangat kepekaan sosial dan menumbuhkan semangat melayani sebagaimana dialami oleh St. Aloysius Gonzaga. Semangat ini adalah semangat untuk menjadi sesama bagi yang lain (‘Men and Women for Others’). ‘Live in’ juga merupakan salah satu sarana pembentukan kepribadian bagi siswa/i SMA Kolese Gonzaga. Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini para siswa/i akan memiliki kepribadian dewasa yang mau terlibat dalam masalah-masalah kehidupan bersama dalam masyarakat.
Kali ini, Paroki St. Petrus Kanisius, Wonosari menjadi tujuan untuk ‘live in’ para siswa selama 5 hari. Paroki Wonosari ini terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada enam wilayah Paroki Wonosari yang menerima para siswa/i. Wilayah Pulutan, dan Wilayah Kwangen terletak tidak begitu jauh dari gereja. Wilayah Singkil, Wilayah Baran, kira-kira 20 km dari gereja, Wilayah Blakonang 26 km dari gereja dan yang terjauh Wilayah Girisubo, 37 km dari gereja. Sejumlah 213 siswa/i dan 11 orang guru pendamping dititipkan di keluarga-keluarga yang ada di sana. Tiap keluarga menerima dua orang siswa/i. Selama bersama keluarga para siswa/i bekerja sesuai dengan mata pencaharian keluarga di mana mereka tinggal. Apabila kepala keluarga bermatapencaharian sebagai petani, maka selama di sana para siswa/i akan ikut bekerja di ladang, atau di sawah. Siswa/i yang tinggal bersama keluarga guru, maka mereka diminta ikut mengajar di sekolah tempat orang tua bekerja. Namun ada pula yang ikut berjualan ke pasar, karena orang tua yang mereka ikuti berdagang di pasar.
Berikut sepenggal cerita dari Ilham Rizky Atallan, siswa Kelas IPA yang mengungkapkan pengalamannya setelah tinggal bersama orang tua di desa:
“Selama tiga hari ‘live in’, saya belajar untuk menjadi pribadi yang terbuka dan sederhana. Saya belajar mendapatkan nilai ini pada saat pertama kali disajikan makanan buatan ibu. Pada awalnya saya merasa kurang menyukai tampilannya, namun setelah dicicipi ternyata saya menyukainya. Dari pengalaman ini saya belajar membuka hati serta pikiran saya terhadap hal baru. Kesederhanaan memang tak asing dalam kehidupan di desa. Dari cara mereka menjalani kehidupan sehari-hari melekat nilai kesederhanaan itu. Namun ada satu peristiwa yang membuat saya terkagum dan haru. Pada hari ketiga, saya dan teman serumah diajak ibu berjalan-jalan di malam hari. Semula saya merasa heran kenapa ibu mengajak jalan-jalan di malam hari. Ternyata di ujung perjalan itu ibu mengajak kami makan di warung bakso. Saya merasa begitu tersentuh. Ibu yang dalam keseharian hanya mampu menyediakan makanan seadanya di meja makan, ternyata mau menyisihkan upah kerjanya untuk membelikan kami bakso. Cara sederhana yang ibu lakukan pada kami sungguh menyentuh, kami merasa dikasihi. Terima kasih ibu, ibu sudah mengajarkan arti kesederhanaan dan kasih sayang yang tulus pada saya.”
Banyak pengalaman berharga, juga nilai-nilai hidup yang diperoleh siswa/i selama mengikuti ‘live in’ ini. Ada juga yang bercerita, betapa sangat terharunya mereka ketika disambut dengan tulus dan penuh kasih oleh keluarga di mana mereka tinggal. Meski dalam keterbatasan finansial, terasa sekali rasa syukur yang dalam atas rezeki yang mereka terima hari demi hari. Para siswa/i juga melihat bahwa semangat gotong- royong antar warga masih sangat terasa. Keramah-tamahan, ketulusan, rasa syukur mendalam atas rahmat hidup, juga kegembiraan untuk berbagi, dan keinginan untuk saling tolong-menolong menjadi buah-buah refleksi yang mereka petik dalam ‘live in’ ini.
Semoga pengalaman ini menjadi bekal para siswa/i dalam hidup bermasyarakat kelak. Semoga mereka semakin bersyukur atas kebaikan Allah.
AMDG